Kriteria Memilih Calon Suami

7 Kriteria Memilih Calon Suami

Memilih Calon Suami itu susah-susah gampang! Nah, Maksudnya…? Bagaimana tidak sulit, banyak orang yang menunda proses sakral bernama pernikahan karena ketidakcocokan

Kriteria Memilih Calon Suami

terhadap calon pendampingnya. Ada juga cerita memilukan yang baru-baru beredar, Seorang Pria ditinggalkan calon Istrinya untuk menikah dengan pria lain,yang katanya setelah ‘berhubungan’ atas nama pacaran selama 8 tahun. Miris, ya?

Dalam kasus lain, masih ingatkah peristiwa sekitar Maret Tahun 2017 tentang mbak inisial SA yang memilih menikah dengan suaminya sekarang, meskipun baru mengenal suaminya hanya dalam kurun waktu 3 hari, dan memilih mengakhiri hubungannya dengan kekasih semu yang sudah menjalani hubungan selama setahun.

Peristiwa ini cukup viral di media sosial instagram, hingga akhirnya menjadi perbincangan khalayak ramai. Ada yang menyayangkan keputusan mbak SA, bahkan ada juga yang mendukung. Bukan ingin membahas lebih detil perihal peristiwa mbak SA, namun ternyata benar adanya jika memilih suami itu bisa dikategorikan rumit.

Jadi wajar, jika para jomblo selalu merasa sebel tingkat dewa jika ditanya kapan nikah? hehehe, karena memilih calon suami itu bukan perkara mudah. Noted! Sorry mbloo!

“Kalau beli baju aja, kita mesti hati-hati, Rin. Apalagi memilih pasangan seumur hidup!”

Benar juga kata teman saya, urusan memilih baju aja harus hati-hati, apalagi memilih teman hidup yang bukan hanya hitungan tahun, tapi seumur hidup. Jadi apa saja ya kriteria memilih calon suami versi saya. Berikut penjelasanya.

Satu Imam, Sholeh dan Paham Agama

Satu Iman merupakan kriteria bagi saya yang tidap dapat dikompromi dengan apapun. SARA? tentu tidak. Saya hanya ingin kehidupan rumah tangga saya terarah. Mau dibawa kemana arah pernikahan yang terjadi. Jika awalnya saja sudah berbeda. Tsah..

Dan Syarat spesifik berikutnya sedikitnya beliau sudah paham agama dan melakukan kewajibannya. Tidak perlu muluk-muluk harus hafal berapa juz dalam Al-quran, atau sudah hafal berapa hadits. Bagi saya pribadi, ketika beliau sudah rajin ta’lim dan istiqomah menjalankan aturan agama, dan mau berjalan bersama-sama, komitmen terus belajar menuju syurgaNYA. Ayok wae ladub gan! :D.

Saya berpikir, jika beliau saja taat kepada Tuhannya, saya hanya membutuhkan keyakinan dan memastikan bahwa Ia pasti sayang kepada istrinya, serta dapat membina rumah tangga sesuai visi yang saya harapkan kelak, meskipun tidak ada jaminan pasti. Akan tetapi, setidaknya Ketika nantinya biduk ini salah arah, ada pegangan kuat untuk kembali mengarahkan biduk ini ke arah yang hakiki dan sebenarnya. Betol apa Betooool?

Usahakan Se-kufu

Kufu dari kata bahasa arab yang berasal dari kata kafa’ah, artinya kesepadanan. Kufu itu dalam bahasa indonesia seperti sederajat. dalam pernikahan mencangkup semuanya ya. baik dalam usia, kedudukan, keturunan(nasab), agama, serta pendidikan.

Kenapa sekufu merupakan hal penting. Dari kriteria ini saya dapat menimbang diri. Saya berada di posisi mana? Intinya, tidak mungkin saya menetapkan kriteria yang tinggi dalam beberapa hal, ketika saya sendiri dalam posisi yang biasa. Banyak ketimpangan yang bakal terjadi. ketimpangan ini akan menimbulkan banyak masalah kelak.

Contoh paling nyata, sekufu dalam hal harta. Banyak masalah di luar sana ketika pasangan yang sudah menikah berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang berbeda. Misala Sang Istri dari keluarga kaya, sayangnya suami berasal dari keluarga biasa. Suatu saat pasti akan terjadi kerumitan karena hal tersebut, Istri yang tidak terbiasa hidup sederhana karena sebelum menikah sudah terfasilitasi kemewahan oleh keluarganya.

Itu hanya salah satu contoh saja, Apakah sekufu ini kriteria wajib? tentu tidak, banyak contoh di masyarakat yang juga tidak menghiraukan hal ini, bahkan menerima pasangannya apa adanya. Ada juga perempuan yang lulusan S2 mau menikah dengan pria yang hanya lulusan SD. itu nyata. Alhamdulillah hingga kini mereka dapat mengarungi biduk dengan bahagia.

Restu Orang tua

Ini hal Ketiga setelah kriteria di atas terpenuhi. Kenapa? Restu Orang tua itu KOENTJI OETAMA. Apalagi perempuan ya, dalam islam, butuh yang namanya wali yang merupakan syarat dan rukun sah pernikahan.Wali nikah dalam islam merupaka orang terdekat pengantin perempuan siapa lagi kalau bukan Ayahnya.

Seperti kriteria pertama, ini juga syarat mutlak bagi saya untuk menetukan pasangan hidup. Saya tidak akan pernah mengecewakan hati kedua orang tua saya. Apalagi untuk jenjang menuju pernikahan. Naudzubillah ya, jangan sampai berseberangan dengan orang tua.

Jika kalian sudah mantap untuk menentukan pilihan, baik agamanya, dan syarat pendukung lainya, ternyata orang tua tidak menyetujui. Tanyakan dengan hati-hati, dengarkan alasan mereka, tetap tunjukkan akhlak dan adab. Jika alasan orang tua masih dapat untuk dikompromikan. Sekali lagi, kompromikan dengan adab yang baik.

Proses menuju pernikahan saya pun cukup dibilang singkat, Ada yang pernah tahu proses ta’aruf? Jangan katakan saya diperantarai oleh ustadzah saya, Simpel, saya malah dikompori menikah oleh kedua orangtua saya. Beliau berdua-lah yang memperkenalkan saya dengan suami saya sekarang dan hingga ke surgaNya, InsyaaAllooh. kok bisa? kapan ajala lah ya saya bakal jembreng How I met My hubby.

Tanggung Jawab untuk Memberi Nafkah

Matre lu! Partriarki lu!

Hari gini masih dompleng financial kepada suami??

Iya. Saya masih berpikiran seperti ini. Sudah sesuai kodrat perempuan akan membutuhkan sosok yang bertanggung jawab akan kehidupannya. Tanggung jawab ini selain masalah moriil, tapi juga masalah materiil. Tidak harus yang sudah jadi pegawai tetap dengan gaji sekian. Cukup yang mau dan mampu produktif menunjukkan kepada istri dan anaknya kelak akan hasil keringatnya.

Akan lebih romantis ketika memulai sama-sama mulai dari nol. dan suatu saat dengan dukungan dan doa istri serta usaha suami, ke-mapanan itu akan terjadi dengan ijin Alloh yaa.

Fisik

Tidak harus tampan, namun bakal menyejukkan pandangan saya. Tidak harus berhidung mancung, dan berkulit putih, cukup Wajahnya yang selalu terbasuh oleh air wudhu. Tidak harus berbadan atletis dan tinggi, Cukup langkah yang selalu mudah melangkah ke majelis ilmu dan masjid. Tidak harus berbibir seksi maupun stylish, cukup yang selalu melantunkan dzikir dan taat pada Tuhannya.

Perokok? BIG NO!

Bapak saya bukan seorang perokok, pun begitu juga Kakak laki-laki, serta adik-adik bapak. Saya sangat sensitif dan tidak suka sama sekali dengan bau rokok, akan tetapi bukan berati membenci setengah mati kepada para perokok ya. Saya hanya tidak suka Asap, Bau dan aktifitas merokoknya. Menurut pendapat saya, merokok itu banyak sekali mudhorotnya. Ya, daripada untuk membeli rokok, mendingan uangnya ditabung buat bekal pernikahan kan? 😀

Keluarga Calon Suami

Ini juga merupakan hal yang saya pikirkan ke depannya. Bukan masalah keturunan ningrat atau bukan. Kaya atau bukan. Tapi lebih kepada, Bagaimana sikap keluarganya akan kehadiran saya kelak? Bagaimana sikap keluarganya memandang keluarga saya? Bagaimana keluarga saya menerima keluarga beliau. Pernikahan itu bukan hanya soal aku dan kamu lho, tapi juga soal persatuan dua keluarga yang mempunya beda kultur, beda sikap dan lain-lain. Saya pernah mempunyai masalah sih soal ini, intinya, Dahulu ada pria yang melamar saya, kebetulan waktu itu syarat terpenuhi semua termasuk restu orang tua. tapi qodarulloh, Keluarga mantan calon tersebut tidak menunjukkan attitude yang baik terhadap keluarga saya. Jadi, saya memilih mundur dari proses tersebut.

Hemm, ternyata banyak ya yang harus dipertimbangkan untuk menetukan bahwa calon layak menjadi pendamping hidup kita. Pastinya dibarengi dengan doa dan istikhoroh. Selalu dekatkan diri aja kepada Sang Khalik. Alloh Subahanhu wata’ala..Biar lebih mantap dan dimudahkan melangkah ke babak baru kehidupan. Ingat, jangan sampai melanggar norma agama ya caranya, masak mau ibadah dibarengi dengan melanggar perintah Alloh.. gak sinkronlaaah..

Kalau Kriteria kamu apa aja? Yuk sharing dong di kolom komentar!..:)

24 thoughts on “7 Kriteria Memilih Calon Suami

  1. Iya sama. Saya juga sempat tidak disetujui orangtua karena perlakuan orangtua calon yang tidak baik.

    Kakak saya yang sudah menikah juga bilang, keluarga itu mempengaruhi besar dalam pernikahan.

    1. Bener banget mbak… Gak ngerasain aja ketika Uda ada missed di awal.. setelah nikah bakalan canggung or sumthin..
      Btw thanks ya mba Uda berkunjung 😍

  2. Dulu, saya sempat baca sebuah artikel yang bilang kalau cinta itu tidak buta. Karena sebelum mencintai orang tentulah kita melihat latar belakang dan perangai orangnya. Blog post Mbak ini mungkin jadi semacam tips untuk ‘cinta-tidak-buta-yang-terarah’ yaa…Haha. Kalau saya kriterianya tambah satu Mbak: suportif untuk hal-hal yang baik.

    1. hhaha, iya mbak, biar ga beli kucing dalam karung. iyes setuju banget sama support di dalam kebaikan mbak, jama sekarang kudu pinter-pinter membuat lingkungan kita positif..:)

  3. 3 poin utama, ada di buku fiqih mbak, jadi inget pelajaran kelas 2 Mts, hheeee
    Bahas, nikah, suami, hhh jadi laferr mbakk hhee
    btw yg kasus mbak SA itu aku belum pernah tau mbak, hihiii
    Salam kenal Mbak Rina ^_^

    1. Beruntung ya kelas 2 MTS sdh dapet materi ini #eh
      Kenapa kok pada lapeer ? Apa Baper wkwkwkw
      Salam kenal juga mbak rochmah, kata mbak prita kita tetanggaan 😁😁

    1. hihihi, iyaa mbak tiap orang punya kriteria khusus masing2.. 😛 makasi mbak vin sudah mau berkunjung 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *