Menikmati Romantisme dan Eksotisme Pantai Papuma Jember

Destinasi Wisata Jember paling Romantis – Pagi hari itu, suara khas deru motor tua milik Abah menemani saya dan suami untuk pergi menuju tempat yang sangat ingin saya kunjungi sebelum menikah. Angin berhembus semilir pagi itu, Hawa dingin dan masih berkabut. Khas musim kemarau. Tak satupun rintangan menyulutkan niat kami berdua untuk plesir di wilayah selatan Kabupaten Jember. Berpelukan erat dalam perjalanan bukan menunjukkan bahwa kami baru saja menikmati manisnya madu pernikahan, akan tetapi hanya berusaha menjaga keselamatan kala itu.

“Dek, pegangan yang erat. Perjalanan masih jauh.. Sabar ya..”

 

pantai-tanjung-papuma

Destinasi Wisata Jember: Pantai Tanjung Papuma

Pantai Tajung Papuma merupakan salah satu destinasi wisata jember yang terdapat dalam deretan pantai selatan yang berada di Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember. Mungkin, bagi beberapa orang pesona Tanjung Papuma mulai ‘memudar’ karena eksistensi beberapa pantai yang sedang marak di Kabupaten Jember baru-baru ini dan pastinya membuat traffic pariwisata di kabupaten Jember makin rame.

Baca Juga: MEMORI 2017: BEST MOMENT TRAVELING

Nyatanya, bagi saya pribadi, Pantai Putih Malikan akronim dari Papuma sendiri, memberi banyak memori manis setiap kali plesir ke di Pantai ini. Tempat wisata pertama yang saya kunjungi bersama suami. Seakan tak sabar untuk tiba di tempat tujuan waktu itu, selang tiap beberapa menit, Saya melontarkan pertanyaan yang selalu sama.

“Mas, sudah mau sampai? Kok masih lama ya?”

Tipikal perempuan yang selalu tidak sabar. Nyatanya, ketika itu bukan karena saya tidak sabar, perjalanan kurang lebih satu jam dengan motor china yang semakin menua, membuat tubuh bagian bawah ingin berteriak. Suami hanya bisa tersenyum ketika saya menjawab jujur, mengapa dari tadi saya gelisah bergerak tak menentu.

Lambat laun, jalan yang tadi pagi sepi dan hanya terlihat beberapa kendaraan yang membawa ternak atau sayuran kini terlihat salah satu jalan di Kabupaten Jember makin rame menjelang siang. Jalanan utama yang tadi lebar dan lurus, Sekarang berubah menjadi sedikit meliuk dan mengecil. Ya, Saya sadar kami sudah jauh dari kota kecamatan Ambulu. Gapura putih bertulisan “Selamat Datang di Desa Sabrang” menyambut kami dengan gagah seakan menyapa dan berharap kunjungan kami tak sia-sia. Alhamdulillah gapura dengan tulisan putih tadi membuktikan bahwa kami sedikit lagi akan sampai di Pantai Tanjung Papuma. Destinasi wisata Jember ini terdapat di Desa lojejer, kabupaten Jember

Hamparan Sawah dan Ladang Sayur

Memasuki Desa Sabrang, Hamparan sawah banyak terlihat di sebelah kanan perjalanan menuju pantai. Beberapa bukit terlihat menjulang tinggi. Bukit yang diselimuti pohon yang menghijau terlihat sejuk di mata meskipun masih tertutupi oleh kabut. Pemandangan seperti inilah yang membuat rindu selalu berkunjung di pantai ini. Tidak membosankan ketika perjalanan dan sangat memanjakan pandangan mata.

Sepeda motor tua yang kami naiki berhenti. Sejenak melepaskan dahaga dan melemaskan otot kaki yang mungkin lelah karena jauhnya perjalanan. Setelah mengamati pemandangan sekitar, terlihat Baliho besar bertuliskan Selamat Datang di Pantai Tanjung Papuma! MasyaAlloh, teriakan kecil keluar dari mulut saya, menandakan kebahagiaan yang membuncah. Akhirnya. Saya berada di sini.

 

destinasi wisata jember-0008
Baliho Depan

 

Setelah baliho besar itu pun ternyata kami masih harus menempuh perjalanan sekitar 10-15 menit untuk mencapai gerbang pos penjaga sekaligus pintu masuk. Dari Baliho depan, Saya melewati berbagai pemandangan, sebelah kiri dipenuhi dengan ladang penduduk sekitar, dan di sebelah kanan dibatasi oleh bukit tinggi menjulang yang dipenuhi berbagai macam flora dan fauna. Terlihat sepintas seperti burung elang yang sedang melewati bukit. Benar atau tidaknya belum bisa saya pastikan, karena hanya mata yang melihat tanpa bantuan teropong. Ah, jadi teringat aktivitas birdwacthing jaman kuliah dahulu.

 

pantai-tanjung-papuma-88888
Ladang Sayur Penduduk Lokal

 

Hutan Jati dan Langit Biru

Alunan merdu suara Tonggeret terdengar bersautan ketika memasuki kawasan di pinggir bukit. Aroma khas  rumput yang basah karena embun berbaur dengan aroma kotoran kelelawar juga mendominasi indera penciuman. Suasana ini menandakan alam di sekitar masih alami dan baik tanpa terkontaminasi keserakahan manusia.

Telihat beberapa lubang di jalan yang sudah dilapisi aspal, membuat sesekali suami menghindar agar tak terjadi hal yang tidak diinginkan. Sejauh ini perjalanan lancar, hanya terhitung jari, lubang yang rusak di badan jalan. Selanjutnya, Saya dan suami melewati ladang sayur dan buah milik penduduk lokal, beberapa saat kemudian Saya disuguhi pemandangan hamparan hutan jati.

pantai-tanjung-papuma
Hutan Jati

 

Bukan kesan menyeramkan ketika berada di tengah hutan jati, yang terlintas dibenak hanyalah takjub semata. Sejenak ketika melihat ke arah atas, banyak ranting pohon jati yang menjuntai telah meranggaskan daunnya, menyatu dengan pemandangan langit biru yang rupawan. Menyisakan lukisan indah dan menenangkan kalbu. Hanya lantunan dzikir yang terdengar diantara suara tonggeret. Mengagumi alam kreasi Sang Pencipta Agung,  yang menyambut kami kala itu.

 

Batuan Hitam Eksotis

pantai-tanjung-papuma-424
Gerbang Masuk Akses Menuju Pantai

Pos penjaga mulai terlihat diantara kelokan terakhir yang kami tempuh. Sayup deburan ombak terdengar dari jauh, seperti gaung yang memantul melalui semilir angin.  Dua gapura kokoh menyambut perjalanan kami, seorang petugas dengan ramah menyambut kami, menginformasikan harga tiket yang harus kami serahkan.

Lima Belas Ribu Rupiah pak, tiap orang. dan untuk parkir cukup Dua Ribu Rupiah saja”. Kata Lelaki paruh baya di depan kami.

Melewati gerbang beratap genteng dari tanah liat, dan dipadu dengan tiga tiang sebagai penyangga, menyambut kami dengan gempita. Sudah terlihat di depan mata muara sungai yang mengalir ke arah sebagian sisi Pantai Watu Ulo. terlihat indah meski tetap kabut  tebal menyelimuti.

pantai-tanjung-papuma-84536
Pemandangan Pantai Watu Ulo

Menuju di balik bukit yang tersimpan surga tersembunyi Kabupaten Jember. Kami harus sedikit susah payah untuk menanjak, mencoba tetap seimbang dengan derajat kemiringan yang masih terbilang normal.  Sempat membalikkan badan, terlihat indah buki-bukit bersahutan dan terhampar di bawahnya area persawahan. Ah, seperti gambaran masa kecil dahulu. Ternyata imajinasi tinggi bocah kecil dahulu memang benar ada dihadapan.

Tanjakan bukit semakin curam dari waktu ke waktu. Tetap setia ditemani beberapa pohon dengan ranting tanpa daun, karena telah gugur dimakan musim. Nyatanya, rintangan menanjak dengan sudut elevasi yang semakin curam, tak membuat kami merasa terintimidasi.

pantai-tanjung-papuma-batu-hitam
Bukit dengan batuan berwarna hitam

Bebatuan berwarna hitam diantara bukit menjadi keunikan tersendiri. Tinggi menjulang! Batu yang disokong banyak flora khas dataran tinggi. walaupun rimbunan tanaman hijau lambat laun memudar tergantikan dengan serakan daun yang mengering, layaknya musim gugur, menguning tapi menyiratkan keindahan.

Jaga Keselamatan Diri!

Bukan dengan mudah termakan mitos belaka yang berhembus di kalangan para wisatawan. Bukan tak percaya apa nasehat sesepuh tentang kemistisan pantai selatan. Hanya saja cobalah percaya, menjadi manusia beradab dimanapun itu dibutuhkan. Ketika banyak peringatan terpasang di setiap sudut tebing. Ketika banyak himbauan di setiap papan informasi. Bukan untuk menakut-nakuti. Hanya ingin saling mengingatkan, menjadi tamu alam yang santun, membuat kita belajar menjadi manusia seutuhnya.

Berperilaku sesuai aturan memberi manfaat besar bagi kita untuk selalu memprioritaskan keselamatan. Begitupun berlaku bagi saya dan suami, peringatan demi peringatan seakan menjadi pengingat bahwa waspada sangat dibutuhkan dan selalu mengingat ketika plesir, kita hanyalah musafir yang mampir pada Alam ciptaan Gusti Alloh.

pantai-tanjung-papuma-939
Dilarang BERBURU!

Kepuasan menikmati alam tak perlu bernafsu untuk merusak, melukai bahkan menghancurkan baik apa yang telah tertulis di papan peringatan. Cukup menikmati keindahan ciptaan-Nya dan bersyukur telah diberi kesempatan melakukan tadabbur alam dimanapun berada, khususnya ketika berada di wilayah Pantai Tanjung Papuma.

Menahan diri untuk tidak terlalu berlebihan dalam hal eksplorasi. Mematuhi alur-alur yang sudah terjamin keamanannya. Tidak terlalu terbuai untuk keinginan-tahuan tinggi mengeksplorasi hutan lindung di kawasan Pantai Tanjung Papuma.

Deretan Perahu Nelayan

Setelah berhati-hati melewati tiap kelokan dengan sudut kemiringan yang curam. Kami berhenti di sebuah gazebo kecil pada sisi bukit. Menikmati Pantai Tanjung Papuma dari pemandangan di atas bukit menjadi hal yang tak terlupakan.

“Ya Rabb, Ini Surga kah? Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimusholihaat..”

pantai-tanjung-papuma-0099
Pemandangan dari atas Bukit

Ketakjuban diri memandang pantai yang terhampar luas. Deretan perahu nelayan yang berlabuh di bibir pantai dengan gagahnya. Sekali-dua kali terlihat perahu kecil yang bergerak melaju dengan lambat di lautan luas, entah sedang melaut atau hanya berkeliling di sekitar kawasan pantai.

Menikmati Pulau Kodok hanya Bersama Suami

Hati saya terasa hangat akan suasana pantai pagi ini. Sedikit terlihat ramai. Sepertinya banyak keluarga yang sedang plesir di Pantai Tanjung Papuma. Suami meletakkan sepeda di tempat parkir yang disediakan. Kami menuju bibir pantai di dekat Klenteng Sri Wulan.

pantai-tanjung-papuma-23
View Klenteng Sri Wulan dari Atas Bukit

Teriakan anak kecil yang asyik bermain air dan pasir membuat susana menjadi hidup. Beberapa kelompok wisatawan yang sedang menaiki perahu akan berangkat mengitari kawasan Pantai Tanjung Papuma.

“Mau mencoba naik?” Tanya suami

Saya menganggukan kepala tanda setuju, diiringi senyum merekah. Saya akan menikmati Pantai Tanjung Papuma lebih dekat. Tak sabar menanti ketika Suami bertanya kepada salah satu nelayan yang sekaligus yang nahkoda perahu untuk berkeliling area pantai.

Sayangnya, Kita harus menunggu hingga minimal 10 orang yang bersedia untuk menaiki perahu. Haruskah menunggu lama? Batin saya. Melihat kloter terakhir telah berangkat dan menyisakan kami berdua. Saya mulai khawatir jika tidak ada wisatawan yang mau naik perahu lagi. Ketika tidak terlihat tanda-tanda wisatawan lain yang ingin naik kapal lagi, Suami mendatangi salah satu Nelayan. Tak disangka, suami melobi untuk naik perahu berdua!. Pastinya dengan harga sedikit berbeda. Jika biasanya tiap orang dipatok membayar Rp. 10.000,00, Kami sedikit membayar lebih.

Betapa senangnya hati saya. Saya akan menikmati keindahan pantai dengan perahu yang penumpangnya hanya kami berdua beserta satu nahkoda. Teriakan beberapa nelayan yang membuat pipi saya merona merah.

“Iya wes, bulan madu wes, Mas e sama Mbak e.”

Sebelum menaiki perahu, kami di beri rompi pelampung, jadi tidak perlu khawatir tentang keamanannya. Karena tidak ada pelabuhan kecil untuk menambatkan perahu, sekitar 15 orang nelayan bahu membahu membawa perahu dari bibir pantai hingga mencapai perairan.

Ketika perahu melaju pelan, semilir angin dan bau khas pantai menguar.  Riakan kecil terjadi antara laju perahu dan air laut.  Perjalanan perahu sekitar 10 menit menuju salah satu batu karang yang dinamai penduduk sekitar, Pulau Kodok. Ketika mencapai Pulau Kodok, Nahkoda mematikan mesin perahu. Dia menawarkan kepada suami untuk ber-selfie ria atau menikmati pemandang laut yang sangat luas.

pantai-tanjung-papuma-32113
Saya dan Pulau Kodok

Kunjungan pertama saya di Pantai Tanjung Papuma berakhir. Hati saya bahagia dalam kunjungan kali ini. Romantisme tanpa picisan yang ditawarkan Pantai Tanjung Papuma menjadikan kenangan tersendiri bagi saya dan suami. Ya, saya akan kembali lagi ke sini lain kali.

 

Senja Kelabu yang Mempesona

Kesempatan kedua, menikmati indahnya Destinasi Wisata Jember satuini, tak berselang lama dari kunjungan pertama saya bersama suami. Libur Lebaran 2016 bersama keponakan menjadi momen indah membuat satu kenangan lagi di Pantai Tanjung Papuma.

Baca Juga: 8 Alasan Memilih Taman Botani Sukorambi Jember Ketika Libur Lebaran bersama Keluarga

Jangan pernah menilai sesuatu sebelum kita benar-benar tahu

Sepertinya kata-kata itu cocok bagi saya ketika keponakan mengajak plesir ke Pantai Tanjung Papuma. Berpikir akan mengalami hal serupa seperti kunjungan pertama. Tak seperti yang dibayangkan, Banyak hal baru dan pengalaman baru yang saya dapat ketika berkunjung di musim penghujan.

Bermain bersama keponakan merupakan hal yang paling manyenangkan apalagi bermain bersama di Pantai  Tanjung Papuma. Menjelang Senja, keinginan untuk melihat matahari terbenam di Pantai Tanjung Papuma tidak terkabulkan. Suasana yang mendung sejak siang hari menjadi penghalang utama matahari malu untuk muncul.

pantai-tanjung-papuma-kila
Aqila bersama Perahu Nelayan

 

pantai-tanjung-papuma-431
Abu Ghazi dan Keponakan bermain ombak

Keadaan tersebut tidak mengurangi kebahagian keluarga saya kala itu. Kami tetap bermain ombak di Pantai. merasakan air laut yang mulai dingin. Senja dengan awan kelabu terlihat mempesona bersama dengan lautan dengan ombak cukup besar. Terlihat beberapa perahu nelayan berlabuh, terombang ambing di lautan dangkal, menandakan tak ada aktivitas nelayan saat itu. Berikut video yang sempat kami abadikan kala libur lebaran hari pertama di Pantai Tanjung Papuma.

 

Kemarau Kedua di Pantai Tanjung Papuma

pantai-tanjung-papuma-111
Hutan Jati di awal musim kemarau

Sama namun tak serupa. Pantai Tanjung Papuma tak memiliki standar baku dalam memanjakan wisatawannya. Terlau banyak keeksotisan pantai ini, hingga membuat yang berkunjung selalu menemukan kenangan indah yang baru ketika plesir di sana.

pantai-tanjung-papuma-32
Beberapa daun telah meranggas dan kering

Alhamdulillah, berkesempatan kembali mengingat hal romantis ketika berkunjung pertama kali. Musim yang sama ketika berkunjung dahulu tidak membuat kenangan kami pun sama. Mungkin ada beberapa hal yang sama. Nyatanya saya menemukan hal baru pada awal kemarau kedua di Pantai Tanjung Papuma

 

Penduduk Lokal nan Ramah

Dalam perjalanan melewati pinggir bukit, kami bertemu dengan penduduk lokal yang ramah yang sedang melakukan aktivitasnya. Saya bertemu dengan beberapa beberapa petani yang sedang memanen buah pepaya. Dan, saya takjub ketika kami berinteraksi dengan hangat bersama mereka, selanjutnya mereka dengan murah hati menawari kami untuk mengambil buah pepaya yang ranum dan siap untuk disantap.

pantai-tanjung-papuma
Petani Pepaya yang Baik hati (deuh pepaya california menggiurkan!)

Setelah melewati hutan jati, kami bertemu juga penduduk lokal yang sedang mengayuh sepeda, dan menyapa kami dengan ramah sambil memamerkan senyum manisnya.

pantai-tanjung-papuma-5757
Bapak yang menyapa ketika perjalanan

Ketika memasuki kawasan pantai, kami melihat beberapa nelayan yang sedang menyiapakan aktivitasnya untuk melaut. Bertemu dengan Bapak yang rumahnya berada di kecamatan Wuluhan. Dia adalah seorang nelayan penangkap ikan kerapu, kakap, lobster mutiara dengan cara manual. Hal yang membuat saya takjub adalah, alat yang digunakan untuk menangkap lobster.

pantai-tanjung-papuma-perahu
Nelayan memperbaiki pompa oksigen

 

Cara dia untuk menangkap adalah dengan proses menyelam. Jangan berpikir bahwa dia menyelam dengan tabung oksigen standar penyelam. Berbekal  pipa oksigen yang sering kita temui di tempat tambal ban dan selang panjang. Dia menyelam ketika malam hari dikarenakan sifat norcturnal pada lobster. Dia mengulur selangnya untuk mendapatkan oksigen dari atas dan mulai menyelam ke dalam lautan. Subhanalloh, Sungguh pengorbanan seorang ayah untuk mencari nafkah.

pantai-tanjung-papuma-5464
Mempersiapkan perburuan mencari lobster

Di sisi pantai yang lain, saya juga bertemu dengan penyelam yang berasal dari Watu Ulo yang sedang mencari gurita, beda dengan lobster yang bersifat aktif malam hari, pencari gurita berburu pada siang hari dengan berbekal alat pancing khusus untuk gurita.

pantai-tanjung-papuma
Trio Nelayan Penangkap Gurita

Selain bertemu para nelayan, kami juga melihat deretan rumah makan yang siap dengan kuliner khas sea food seperti lobster, cumi-cumi, ikan kerapu, udang, dan yang lain, yang pastinya memanjakan lidah.

pantai-tanjung-papuma-47474
Rumah Makan yang menyediakan aneka Sea Food

 

Memori tentang Biota Laut

Sayang, kala kunjungan kali ini, Pantai Tanjung Papuma sedang musim kemarau menandakan biota laut jarang ditemukan di tepi karang. Pada kunjungan kedua ketika lebaran, Pantai Tanjung Papuma mengalami surut. Membuat Kami dapat menikmati beberapa biota laut yang tersebar di batu karang kecil di bibir pantai.

Tak terlihat kehidupan kerang ataupun teripang
pantai-tanjung-papuma-44444
kepiting dimanakah kau bersembunyi?

Kelomang yang bersembunyi di lubang karang, kepiting kecil yang berlarian diantara pasir dan batu, Bulu babi dengan duri berwarna hitam yang berduri, ataupun beberapa jenis teripang yang mengeluarkan eksresi berwarna ungu. serta beberapa kerang kecil yang memenuhi daerah lamun. Masya ALLOH, sungguh Cantik!

pantai-tanjung-papuma-887
bulu babi, teripang, kelomang, dimanakah kalian?:(

Kemarin ketika terakhir berkunjung ke sana, saya hanya menemukan sisa karang dengan sedikit alga yang bertahan.Saya selalu berdoa, di lain kesempatan saya bisa berkunjung di Pantai Tanjung Papuma dan menemukan banyak biota laut, bukan untuk dibawa pulang, akan tetapi untuk diabadikan dalam bentuk foto. Pastinya membuat salah satu destinasi wisata Jember ini makin menarik minat pengunjung yang tertarik dengan biota laut.

 

Batas antara Langit dan Laut

Kemarau kali ini berkabut tebal. Mengaburkan batas antara langit dan laut. Menjadikan pemandangan indah yang luar biasa untuk dinikmati. Pasir putih membuat nilai tambah pesona lain Pantai Tanjung Papuma. Deburan ombak yang berukuran sedang memecah riaknya di bibir pantai.

pantai tanjung papuma 0222
Perahu Nelayan yang sedang berlabuh

Duduk bersama suami di pinggir pantai dan menikmati keindahan ciptaan Alloh Jalla Jallaluhu menjadikan manusia seperti saya ini lemah akan apapun. tadabbur kali ini lebih bermakna. Mensyukuri nikmat Tuhan sekecil apapun.

 

pantai tanjung papuma-ggg
Perbukitan yang terlihat cantik bersama kayu kering cocok untuk spot foto

Pendar keindahan tak kunjung usai melihat pesona Pantai Tanjung Papuma. Kolaborasi antara perbukitan, pegunungan, Pantai, serta batu karang nang elok menghiasi tiap inci surga di selatan Kabupaten Jember ini.

 

Tegarnya Batu Karang Eksotis

Tak hanya menyajikan pantai dengan riak ombak menawan. Tak hanya menyuguhkan pasir putih dan deretan perahu nelayan. Pantai Tanjung Papuma mempersembahkan beberapa batu karang tegar yang eksotis.

pantai-tanjung-papuma-2421134
Batu Karang di balik peraduan

Terdapat tujuh karang besar yang terdapat di Pantai Tanjung Papuma. Disebutkan dari beberapa literatur, konon katanya, batu karang ini mempunyai nama sendiri yang berasal dari tokoh pewayangan seperti Pulau Batara Guru, Pulau Kresna, Pulau Narada, dan Pulau Krajang, serta terakhir Pulau kodok yang memang mempunyai struktur bentuk morfologi seperti katak.

jember makin rame loh
Spot Foto bersama mangrove dan batu karang
pantai-tanjung-papuma-13131
Pesona kabut kelabu dan karang

Batu-batu karang ini menjadi angle yang artistik untuk berfoto ria. Batu karang ini membuat Pantai Tanjung Papuma lebih indah atas kehadirannya. Tiap sudut menceritakan keunikan sendiri. Di atas Karang terlihat dari kejauhan, beberapa flora laut semacam lamun (sea grass) menjadi penghuni tetap batu karang. Dan pastinya saya yakin banyak fauna laut yang mendiami tiap lubang di batu karang.

destinasi wisata jember-29419348938
Kompilasi Alam: Batu Karang, Awan Cirrocumulus, Riak Ombak yang eksotis
pantai-tanjung-papuma-39282
Mangrove dan pemandangan pantai serta bukit

 

Mendaki Bukit Siti Hinggil

Pantai Tanjung Papuma 76777
Siti HInggil dari dekat

Siti Hinggil, Spot Terbaru Pantai Tanjung Papuma

pantai tanjung papuma 333

(1) Bangunan Siti Hinggil dua lantai; (2) Tangga turun dengan view menakjubkan; (3) Siti Hinggil dari bawah bukit

Bukit tinggi yang terjal dahulu telah mengalami tranformasi yang cantik dari pihak Manajeman Pantai Tanjung Papuma bernama Siti Hinggil. Saya membayar tiket tambahan untuk menikmati salah satu spot terbaru dari Pantai Tanjung Papuma sebesar Rp. 10.000,00. Saya mengira hanya bangunan ruang terbuka biasa dengan berbagai macam spot selfie saja.

Tangga yang berwarna-warni membuat kelelahan yang terasa mencapai puncak Siti Hinggil berkurang. Disamping kanan-kiri tangga dihiasi dengan lampu warna-warni yang diperuntukkan wisatawan yang mungkin berkunjung malam hari.

Lantai 1 Bukit Siti Hinggil, Foto diambil dari lantai 2

Ketika mencapai ruang terbuka tersebut. Hal yang pertama saya lakukan adalah memandang langit dan lautan luas di depan saya. Allohu akbar- Allohu akbar! lantunan dzikir terlafadzkan manakala saya mencapai puncak bukit paling atas. Pemandangan yang tak bisa saya ungkapkan kata-kata.

pantai tanjung papuma
Pemandangan batu karang besar dari lantai 1 Siti Hinggil

 

View Pantai Tanjung Papuma terlihat di atas bukit. Meskipun cuaca terang namun kabut masih menyelimuti Pantai Tanjung Papuma pagi itu. Berikut memori yang berhasil kami rekam dari atas bukit Siti Hinggil. Bukit ini ke depannya akan menjadi daya tarik Destinasi Wisata Pantai Papuma. Dan memberikan andil besar menjadikan Jember makin rame oleh wisatawan lokal dan asing.

Mengingat Kebesaran-Mu

Tak terasa mata saya sembab melihat pemandangan di depan. Bergetar kala itu melihat Kuasa-Nya. terlihat kecil dan tak berdaya. Kelelahan karena mendaki bukit tadi terbayar sudah dengan pemandangan luar biasa dari atas. Suara deburan ombak yang dipecah oleh batu karang besar menambah eksostisme Pantai Tanjung Papuma dari atas bukit.

Racikan Kuasa Tuhan begitu indah untuk disyukuri

Dari Bukit Siti Hinggil terlihat seluruh panorama Pantai Tanjung Papuma, suasana bibir pantai, ombak, batu karang, bukit, pegunungan serta hamparan hutan lindung. Sesekali terlihat kawanan burung yang melewati bukit. Ah, indahnya… Masya Alloh.. Kemarau kedua ini saya menoreh banyak kenangan indah lagi.

Pantai Tanjung Papuma 121
Pemandangan Pantai Tanjung Papuma

Jadi, bagi saya pribadi Destinasi Wisata Jember dengan nama lain Pantai Malikan ini menyimpan dan membuat kenangan bersama orang-orang tercinta. Menjadikan tujuan kala suasana perkotaan di Kabupaten Jember makin rame, menyendiri di pantai sembari bermuhasabah diri.

Mengukir romantisme di tiap sudut pemandangan yang menghadirkan eksotisme luar biasa. Keinginan saya adalah dapat menikmati matahari terbit dan tenggelam di pantai ini dengan jelas, serta menikmati taburan rasi bintang bersinar bersama pemandangan batu karang di malam hari. Semoga Alloh memudahkan!

Pantai Tanjung Papuma mempersembahkan berbagai banyak hal ditiap waktu berbeda, baik musim kemarau, maupun penghujan. Baik untuk menjalin kasih sayang dengan pasangan halal atau mengikat kasih sayang antar anggota keluarga, teman, maupun partner kerja. Dan yang lebih penting adalah menjalin kedekatan manusia dengan Sang Pencipta.

pantai tanjung papuma dan awan
awan bergelombang cirrokumullus menyelimuti Pantai Tanjung Papuma yang masih berkabut

Nah, Ingin membuat kenangan tak terlupakan di Pantai Tanjung Papuma? Segera kesana yaa….

Untuk mempermudah, saya kasih peta menuju ke sana ya.. 🙂

Informasi tambahan:

Tiket masuk: Rp.10.000,00/orang

Naik Perahu Nelayan: Rp. 10.000,00/orang (tahun 2015)

Parkir Motor: Rp. 2000,00

Masuk Bukit Siti Hinggil: Rp.10.000/orang

Yuk, Travelling lagi!

 

 

pantai-tanjung-papuma-0111

Artikel ini diikutsertakan ke dalam #LombaBlog Destinasi Wisata Jember yang diselenggarakan oleh Taman Botani Sukorambi Jember, Blogger Jember Sueger, dan Dinas Pariwisata& Kebudayaan Kabupaten Jember

Sumber: 

Gambar: Dokumen Pribadi dengan Asus Zenfone 4 Max Pro

https://travel.kompas.com/read/2014/07/26/141900627/Papuma.Pantai.Terindah.di.Jatim.

https://www.merdeka.com/gaya/5-mitos-gaib-yang-meliputi-pantai-papuma-jember-wisata-jember-17/ombak-pantai-selatan-yang-rutin-memakan-korban.html

15 thoughts on “Menikmati Romantisme dan Eksotisme Pantai Papuma Jember

  1. Masyaallah…. Bagus bener.
    Sudah pernah kesana, jadi pingin kesana lagi. Ternyata banyak yang belum dijelajahi.

  2. Masya Alloh indahnya pantai papuma. View nya bagus foto2 keliatan bak lukisan, apik eksotik. Beberapa thn lalu blm ada siti hinggil. Mudik nanti qt kesana yuuk….. Papuma TOP bangeet, matur nuwun informasinya….

  3. Wih warna warni ya sekarang. Ines belum pernah ke Pantai Papuma yang sudah berubah penampilan ini.

    Dulu pernah tuh mbak, Ines megang bulu babi di Malikan, ternyata bahaya ya?

    Next harus ke Papuma lagi tapi jalan kaki dong mbak wkwk seru lho sensasinya.

  4. Beberapa bulan lalu saya beserta keluarga ke papuma, nekat juga bawa bayi saya yg masih usia 4bulan. Yah, ini demi busui yg teramat rindu dg papuma. Ulasan² yg mbak martabak bunder info kan, emang ajib bener dan sesuai kondisinya. Pantai yg cantik, aksesorisnya yg indah. Suara ombak yg merdu. Cucok meong banget buat liburan keluarga.

  5. MasyAllah Mba tulisannya panjang sekali. Karena panjangnya itu jadi memberikan penjelasan yang lengkap bahkan saya ikut terbawa perasaannya, seolah-olah sedang berada di sana juga. Ketika kita melihat ciptaan yang begitu indah. Pasti yang terlintas langsung oleh kita adalah kehebatanNya

  6. Pemandangan dari Siti Hinggilnya keren banget. Seandainya lebih diekspos pasti terkenal sampai manca negara tapi nanti efeknya juga jadi lebih ramai dan kotor.
    Btw mba, headernya di mode mobile kok jadi lebih dari width halaman ya. Maaf hanya masukan saja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *