5 Alasan yang Bikin Betah di Desa

Martabak Bunder — Dua puluh lima tahun saya sama sekali tidak pernah meninggalkan kota kelahiran saya, Kota Malang.

Dalam artian, saya belum pernah meninggalkan secara lama untuk mengemban ilmu ataupun bekerja ke luar kota. Pasti udah bisa bayangin kan kalau saya tipe orang yang jago kandang, mahasiswa yang gak pernah kos, serta tidak pernah jauh dari orang tua. Yes! Lengkap. Hal-hal yang kaya gini sering dijadikan teman-teman kampus saya dulu bahan untuk mem-bully saya.

wp-image--728251472

“Rin, kamu gak bakal ngerasain jadi mahasiswa sejati kalo belum ngerasain kos!”

“Nge-Kos itu enak loh rin. Makanya jangan jadi anak mama!”

“Duh rinn, kesian banget sih, ga pernah mudik!?”

Kata-kata itu sering terdengar tatkala libur lebaran dan liburan semester tiba. Secara tidak langsung, saya jadi terbawa untuk memendam rasa ingin merasakan mudik ataupun merantau ke luar kota. Hingga pernah saya menuliskan hal lucu di planning hidup saya yaitu pengen tinggal di Desa setelah menikah. Orangnya receh ya? 😀

Beberapa tahun kemudian, takdir sepertinya mendukung apa yang tertulis di diari kecil saya. Saya menikah dengan Suami yang notabene berasal dari kabupaten Jember. Seneng dong? Banget, ya kan ngikut suami :). Ada beberapa hal yang berbeda dong setelah tinggal di desa. Selain, harus meninggalkan Bapak, Ibu serta Adek tercinta yang sudah setia setiap saat menemani. Kadang masih mellow banget kalau memikirkan harus berpisah dengan Fatimah. 🙁

Baca Juga: SURAT CINTA UNTUK FATIMAH: Sudahkah Kamu Memesona Hari Ini, Ndug?

Banya perbedaan nyata antara kehidupan di Desa dan Kota. tapi ga bermaksud mendiskreditkan kota maupun desa ya. okay, next post saya bakal bikin pos tentang gimana enaknya tinggal di Kota. Biar seimbang gitu gak berat sebelah 🙂

Ini beberapa hal yang bikin kamu betah tinggal di Desa versi saya.

1. Jarang MACET

Beda halnya dengan keadaan kota metropolitan yang tidak lepas dengan kata macet. Kehidupan desa menyuguhkan ketenangan. Di desa kamu jarang nemuin yang namanya macet. Alasannya karena di desa masih jarang orang memililiki kendaraan pribadi. Yah, macet pernah lah, tapi bukan rutinitas yang bakal kita temukan setiap hari. Jadi, macet yang biasa kamu temukan di kota dan bikin spaneng serta emosi jiwa, gak bakalan kamu temukan di kehidupan Desa. Sebaliknya, di Desa kamu bakal bisa mengkontrol emosi lebih baik soalnya bakalan jarang ketemu yang namanya kemacetan.

2. Udara Masih Bersih

Ada hubungannya dengan kemacetan, karena jarang macet dan sedikitnya pabrik industri di desa membuat udara di desa masih bersih dan melegakan. Iya gak sih? Kalau di kota, kita bakal biasa bertemu dengan polusi

akibat kendaraan yang semakin padat, dan ruang hijau yang dialihfungsikan menjadi pabrik industri maupun perumahan. Hal-hal seperti itulah yang memperburuk kondisi polusi di Kota. Beda banget sama keadaan di Desa bakal ketemu dengan angin sepoi-sepoi di balik peraduan, pematang sawah yang masih banyak, ruang hijau yang masih sangat difungsikan. So, otomatis di Desa kebutuhan oksigenmu tercukupi maksimal. Kesehatan pun terjamin karena tidak adanya polusi.

3. Biaya Hidup Murah

Nah, ini yang paling saya suka. Semua serba murah. Ehm, kalau ini relatif sih alasannya kenapa kok bisa ya kebutuhan di Desa itu murah-murah? Hmm, apa karena penduduk di Desa sini masih banyak yang petani ya? Jadinya, cost-nya tidak terlalu mahal buat ke tangan pembeli terakhir. Jadinya bahan-bahan kebutuhan disini relatif murah. Oke, saya bandingin satu aja. Misal nih.. nasi bungkus di Kota rerata harganya 10 ribu rupiah dengan lauk seadanya, nah kalau di Desa kamu bakalan dapet seporsi nasi bungkus dengan lauk mewah hanya tiga ribu rupiah saja. What?? iya. Dan pastinya kalau di Desa kalau ada barang yang mahal gak bakalan laku. Sumpah deh, Donat yang harganya selangit di Kota besar bakal di-gumun (red: jawa, diomongin)

Donat tekan opo kok larang temen?“.(red: jawa, Donat dari bahan apa, kok mahal sekali?) kalau sudah kaya gini, gua harus bilang apa?? :’D

Jadinya biaya hidup di desa itu ngirit banget. Tips dari saya adalah mending kamu tinggal di desa tapi tetep kalau cari nafkahnya di Kota. Ini pengalaman saya dan suami pribadi. meskipun memang di Kota sudah ada yang meng-handle masalah teknis, tapi suami disini hanya kebagian cek aktivitas via online saja.

Baca Juga: 7 Tips Jualan Online di Instagram bagi Pemula

Serius, ini tips ampuh banget buat kamu yang ingin punya uang simpenan banyak 🙂 *idengawur*

4. Tetangga Kaya Saudara

Pengalaman saya kalau tinggal di kota itu jarang kenal sama tetangga. Jarang tahu keadaan tetangga kita. ini emang alasan relatif sih. Ada kok kehidupan di Kota yang sosialnya seperti di Desa. Banyak contohnya. Tapi Mayoritas di desa, tetangga di sini itu layaknya saudara. Atau sudah dianggap saudara ya? Keramahan dan kehangatan orang desa itu sudah terjamin. Kalau ada anggota keluargamu sakit, otomatis mereka bakal berempati sama kamu, sampe dalam tingkat bikinin bubur segala, nganterin ke dokter, dateng tiap hari buat nanyain keadaan loh, serius!. Cinta mereka itu setulus cinta antara sesama keluarga. Ya, jiwa sosial mereka lebih tinggi. Lebih care, lebih ramah lebih lebih banyak positifnya :). Siap-siap aja banyak saudara kalau misal mutusin buat tinggal di Desa.

5. Karena Cinta

Hal yang paling bikin betah adalah ketika kita tinggal disini bersama orang-orang yang sangat kita cintai.

Iyes, sesimpel itu. Ahay! Meskipun toh suami ngajak dimanapun berada, ketika saya nyaman dengan beliau bakalan ngikut dah kemana beliau mau. Kaya lima bulan lalu kami memutuskan hijrah dari riuhnya suasana kota ke desa kecil di pojokan kabupaten jember. How Romantic! 🙂 Setelah tinggal di Desa, Saya lebih banyak waktu untuk mengurus suami dan rumah kita mertua. Ada deh waktu buat blog walking ke beberapa food blogger biar menu masakan tiap hari ga ngebosen-in dong. Saya pernah mengulas beberapa food blogger juga.

Baca Juga: FOOD BLOGGER FAVORIT YANG BIKIN LAPER MATA

Jadi siap buat tinggal di Desa? Kalau kamu mending tinggal di Desa atau di Kota? Ceritakan ya di kolom komentar. 🙂

Salam hangat,

 

4 thoughts on “5 Alasan yang Bikin Betah di Desa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *